You Know Who You Are Without Them

When I say I miss school, doesn’t mean I really miss it. I just miss my friend and the moment.

 

.

.

.

 

I think it’s right, all the way

Terkadang saya merindukan masa-masa di sekolah bukan ketika saya memasuki ruang kelas pertama kali pada hari itu atau semacam izin ke toilet.

Saya merindukan suasana ketika saya dapat berkumpul atau sekadar melihat teman dan orang yang saya kenal lewat di depan saya. Ah, mungkin tidak sesimpel itu.

Entah kenapa waktu-waktu yang paling saya rindukan ketika masa sekolah justru hadir hanya di pagi dan sore hari. Ketika pagi hawa dingin dari pendingin ruangan masih terasa menusuk indra penciuman sehingga membawa udara berbau aneh dari filtrasi di dalamnya sama sekali tidak membuat pikiran saya merasa segar ketika menghirupnya, padahal posisi saya sudah berada di luar rumah, terlebih kasur. Namun… ketika melihat dan mengenali orang-orang yang biasa berinteraksi dengan saya datang melewati gerbang sekolah satu per satu, rasanya, tidak dapat saya katakan. Mungkin seolah tiap bagian hidup saya datang bersama mereka ketika mereka melewati gerbang itu.

 

Siang hari saya lewati biasa saja. Hanya lapar dan kantuk yang lebih sering muncul.

 

And the bell are ringing, we’re going home. But not me, not my friends. Ha-ha!

 

Memang, orang-orang di kelas saya terlekat julukan ‘datang terakhir pulang pertama’. Tapi bukan itu poin dari paragraf ini. Mungkin kita terlihat pulang, tapi seakan kehidupan kita hari itu dimulai saat kita keluar dari gerbang sekolah.

Berkumpul di satu titik, bergembira dan melepas penat! Apapun definisi kalian soal bergembira… kita menikmati setiap momen yang kita lewati. Percakapan tak pernah habis. Ide tak pernah terlewat. Dan perut selalu kenyang.

Kita tidak pernah khawatir tentang esok, seakan kita semua tahu, kita saling ada esok hari untuk saling melengkapi. Bagai peraturan tak tertulis namun semua menyuarakan sebagai satu suara.

 

Dan, kejadian ini berlanjut hanya untuk 2 buah nama:

‘Rencana Tengah Tahun’

dan

‘Rencana Akhir Tahun’

120

Mungkin cuma hipotesa, tapi sekolah di SMA yang satu angkatan cuma 120-an orang bikin kita atau mungkin cuma gue yang sadar kalo sebuah grup pertemanan akhirnya lebih asik ketika anggotanya makin banyak..

Dan,

Di kuliahan gue gak nemu orang-orang yang kayak tadi di atas

Homesick

“Takut homesick..” ada yang mengucapkan itu beberapa hari yang lalu sama gue …

Secara harfiah Homesick berarti kangen rumah, tempat tinggal atau sesuatu yang kemarin kita terbiasa bersama lingkungan tersebut namun secara tiba-tiba (lebih banyak atau biasanya karna terpaksa) harus meninggalkan lingkungan tersebut. Bisa karena pindah rumah, ikut orangtua atau kerabat yang lokasi pekerjaannya dipindahkan, atau karena diharuskan menuntut ilmu di kota lain disebabkan lulus dari jenjang pendidikan yang sebelumnya.

Tapi karena alasan apapun biasanya homesick yang gue bahas di sini hanya bersifat sementara. Yaitu karena alasan terakhir yang gue sebutkan tadi di atas.

…diharuskan menuntut ilmu di kota lain…

Mungkin terdengar simpel bagi orang yang belum akan merasakan keadaan di mana kita harus (terpaksa) pergi berpisah dengan teman-teman, sahabat seperjuangan ‘di sini’ dan yang terutama dengan keluarga. Di mana kita sudah terbiasa sedari kita akan mengintip ke dunia ini dengan mereka, Ayah, Ibu, Kakak-Adik mungkin juga dengan saudara yang lain.

Dengan kita ‘pindah’ sementara menuju kota lain berarti semua keadaan di sana akan berbeda dengan siklus harian di tempat kita sebelumnya, alias kota tempat tinggal kita yang asli.

Ada yang bilang, ‘Kau bisa memilih teman, tapi tidak bisa memilih tetangga’. Yup, seratus persen benar! Keberadaan sementara kita di sana pasti jauh dari batas khayalan siapapun, maksud gue, secara individu kita mungkin biasa berkhayal tentang lingkungan dan tetangga ideal kita, tapi.. TETANGGA TIDAK BISA DIPILIH. Apa yang lo kamu anda terima di sana adalah tetangga kalian selama batas waktu yang kalian tetapkan saat memilih tempat tinggal.

Teman bisa dipilih kok, di manapun 🙂

Ada cara yang menurut gue bisa sedikit meredam homesick:

Yang bikin gejala homesick itu muncul pasti kebiasaan bareng orang-orang di lingkungan kita yang asli. Lo kamu anda harus mengatasinya dengan membatasi komunikasi dengan mereka-mereka itu yang di sana.. Untuk sementara waktu  sampai kalian mulai terbiasa hidup dengan siklus kegiatan di lingkungan kalian yang baru. Berkomunikasi aja sesekali, mungkin utamakan kabar terbaru kalian kepada orangtua 🙂

Kalau kalian mempunyai orang terdekat selain kategori yang sebelumnya ada baiknya tetap menjalin kabar singkat sekedar membangun komunikasi hangat. Tidak berlebih. Intinya jangan kabar singkat tadi malah memperburuk homesick kalian, hehe.

Apapun, orang-orang tadi membutuhkan sekedar kabar kalian. Mungkin sesekali juga tambahkan kegiatan baru kalian agar tetap bisa seru-seruan, tentunya dengan point meredam homesick.

Terakhir, homesick menyangkut paut dengan fasilitas di rumah asal kita. Di sana kita mudah bepergian, jajan makanan yang biasanya gak perlu ngitung saldo dompet, terlebih yang rumahnya terkoneksi internet via wi-fi. Semua gratis karna mayoritas ditanggung ayah/ibu atau juga karna kita masih dekat dengan mereka jadi biaya tak terduga bukan masalah terlalu berat. Tapi di sini semua dilakukan dengan tenaga dan pemikiran sendiri. Yang di rumah terbiasa sendiri sebelumnya bukan masalah berarti, teman keseharian kok. Yang enggak, perlu beberapa penyesuaian agar terbiasa. Mengatur keuangan dan konsumsi tentunya agar tetap tercukupi. Musuh utama yang terkena homesick itu, Mbosan… pasti. Kalau sudah merasakan puncaknya mbosan jangan sungkan menghubungi orang yang kalian tahu selalu bersedia menyediakan waktu dan pikirannya untuk kalian. Enggak mesti bersendu-sendu, marah kesal dan celotehan ocehan ngawur kalian pasti ditanggapi dengan bercanda pula oleh orang yang mengerti kita itu. Tenangkan pikiran agar semuanya tidak memperburuk keadaan apalagi mbosan tadi.

Homesick, cuma sementara selama hubungan hangat kita tetap terjalin.

Ini Bukan Libur, Ini ‘Nganggur’

Hampir setahun gue ketemu sama seorang temen main di RT perumahan, waktu itu gue mau berangkat sekolah tiba-tiba ketemu dia.

Karna temen lama, gak enak kalo gak nyapa..

Gue: sehat bro? apa kabar?

Temen: baik. lo mau berangkat?

Gue: iya.. anak-anak udah gak pada keliatan nih

Temen: ya biasalah, udah pada kuliah

Gue: ohh…

Temen: Mungkin emang waktunya harus misah dulu, ntar juga ketemu lagi

Gue langsung mikir sambil denger jawaban dia yang singkat itu. Sejenak gue inget-inget balik zaman gue waktu liburan panjang mau masuk SMA, yoi, liburan panjang sehabis UN SMP. Itu baru bener-bener yang namanya liburan panjang, bukannya setengah tahun nunggu deg-degan was-was nggak tahu rezeki memutuskan untuk lanjut di universitas mana, kota mana, bareng siapa, gimana keadaan orang-orangnya, dan pikiran penyesuaian-penyesuaian yang lain yang sampe saat ini gue juga masih mikirin gimana 2 bulan lagi gue akhirnya resmi jadi Mahasiswa.

Balik ke inget-inget zaman SMP menuju SMA tadi..

Sambil jalan masih ada temen gue tadi, gue masih berhasil terpikir sama jawaban temen gue.

Gue masih kebayang-bayang waktu main futsal rame-rame sama mereka dari jam 4 sore sampe waktu maghrib. Tiap hari… Yes, tiap hari, tanpa ada pikiran pr, tugas, mau ngapain besok karna rutinitas waktu itu setiap hari selalu sama. Ketemu mereka tiap sore, main futsal di lapangan RT yang mungkin anak-anak sekarang udah gak pernah lakuin seseru kita dulu.

Waktu dia mau sampe rumahnya, gue balik ke realita, lagi jalan mau berangkat ke sekolah..

Gue: ohh haha, mungkin. (lanjutan sedikit percakapan gue tadi.)

Dan akhirnya gue jalan menuju sekolah, dia balik ke rumahnya.

Walaupun temen gue udah kebawa pergaulan yang gak begitu baik, sekolah udah gak lanjut, udah bikin tatto, tapi dia berhasil bikin gue yang masih nyari ilmu alias anak terdidik di bawah Kementerian Pendidikan Republik Indonesia dapet sesuatu yang lebih berharga daripada duduk berjam-jam di belakang meja kelas dengan pantat yang panas… Temen-temen, waktu seneng-seneng gak bakal keganti sampe kapanpun juga. Sesering mungkin kita nyoba ngulang having fun sama orang-orang yang sama atau nyaris sama di waktu yang berbeda-beda.

And back to the present, kayak gue ketik tadi di atas, 2 bulan lagi akhirnya gue resmi jadi Mahasiswa yang nanti pasti ketemu wajah, watak, dan waktu yang bener-bener beda dari masa ‘nganggur’ hari ini.

Sekali lagi, ini bukan liburan. Ini masa-masa nganggur di mana lo nunggu saatnya pisah sama temen-temen terdekat lo satu per satu, perlahan-lahan …

Temen gue: … ntar juga ketemu lagi.

Apakah Semua Planet Memiliki Langit Berwarna Biru?

Apakah Semua Planet Memiliki Langit Berwarna Biru?

Apakah Semua Planet Memiliki Warna Langit Biru?


Matahari di langit planet terrestrial. Atas: Langit di merkurius tampak gelap dan langit Venus yang berwarna oranye kemerahan. Bawah: Langit biru di Bumi dan langit kemerahan di Mars (via: Dok. langitselatan.com).

Tidak semua planet memiliki langit berwarna biru. Mengapa demikian? Alasannya bergantung pada atmosfer si planet. Sebelum kita menelusuri setiap planet, bagaimana kalau kita cari tahu mengapa langit di Bumi berwarna Biru.

Ketika seorang astronom mengamati benda langit, maka informasi yang ia kumpulkan adalah cahaya yang dipancarkan atau dipantulkan oleh si benda langit dalam berbagai panjang gelombang. Cahaya tersebut kemudian diterima oleh manusia dalam bentuk spektrum warna. Setiap panjang gelombang akan menghasilkan warna yang berbeda.

Mata manusia memiliki sensitivitas pada cahaya yang berada pada rentang tertentu dari spektrum elektromagnetik yang disebut spektrum optik atau spektrum kasat mata atau kita sebut saja cahaya tampak. Manusia hanya bisa melihat dan mengenali spektrum optik yang berada pada panjang gelombang 400 – 700 nanometer yang berasosiasi dengan warna ungu ke merah. Meskipun ada mata yang juga sensitif terhadap warna yang dihasilkan cahaya pada panjang gelombang 320 nm. Warna-warna pada spektrum optik ini yang sering kita kenali sebagai warna pelangi yakni MEJIKUHIBINIU aka Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu. Dengan warna merah merupakan warna yang dihasilkan oleh panjang gelombang panjang dan ungu merupakan warna yang dihasilkan panjang gelombang pendek.

Selain spektrum optik yang kasat mata, ada juga cahaya yang tidak kasat mata yang dipancarkan oleh cahaya pada panjang gelombang yang lebih pendek dari cahaya ungu atau kita kenal sebagai ultra ungu dan cahaya yang dipancarkan pada panjang gelombang yang lebih panjang dari merah atau kita kenal sebagai cahaya infra merah.

Apa urusannya dengan langit yang berwarna Biru?

Matahari yang menjadi bintang induk bagi Bumi memancarkan cahaya yang diterima oleh mata manusia. Cahaya yang dipancarkan Matahari tersebut mengandung seluruh spektrum elektromagnetik yang merentang dari panjang gelombang paling pendek sampai panjang termasuk di dalamnya cahaya tampak dan tak tampak; gelombang radio, gelombang mikro, cahaya ultra ungu, ungu, nila, biru, hijau, kuning, jingga, merah, infra merah, sinar X dan sinar gamma. Setiap warna tersebut juga merepresentasikan frekuensi dari rendah ke tinggi dengan cahaya merah berada pada frekuensi rendah dan ungu pada frekuensi tinggi.

Tapi mari kita fokuskan pada cahaya tampak yang merupakan warna pelangi yang bisa dinikmati setelah hujan. Cahaya Matahari yang tiba di Bumi merupakan percampuran cahaya dari seluruh panjang gelombang atau dari seluruh warna. Cahaya yang datang dari Matahari bergerak dalam garis jika tidak ada apapun yang menghalangi perjalanannya. Contohnya, jika cahaya bertemu kaca maka ia akan dipantulkan. Sedangkan jika cahaya melewati sebuah medium, arahnya akan berubah dan terjadilah pembiasan cahaya.

Sebelum diterima oleh mata manusia di Bumi, cahaya Matahari harus melewati lapisan atmosfer yang di dalamnya terdapat berbagai macam atom dan molekul gas seperti nitrogen, oksigen, uap air, dan debu. Saat melewati atmosfer dan bertemu molekul-molekul gas inilah cahaya Matahari diserap dan kemudian dihamburkan ke semua arah. Saat dihamburkan, cahaya berfrekuensi tinggi akan dihamburkan lebih banyak dari pada cahaya yang berada pada frekuensi rendah. Dalam hal ini cahaya biru akan lebih banyak dihamburkan oleh molekul dan partikel di udara dibandingkan cahaya merah.

Tapi, langit pun tidak akan tampak ungu, meskipun ungu merupakan cahaya yang memiliki frekuensi paling tinggi dan panjang gelombang terpendek dalam cahaya tampak. Salah satu alasannya adalah sensitivitas mata manusia terhadap cahaya ungu lebih kecil dibanding cahaya biru.

Bagaimana dengan Planet lainnya?

Warna langit di planet lain di Tata Surya 

Warna langit di setiap planet di Tata Surya maupun ekstrasolar planet yang mengitari bintang lain akan sangat bergantung pada kerapatan dan komposisi kimia di atmosfernya. Sekarang, mari kita bertualang ke planet-planet di Tata Surya dan satelit-satelitnya.
Pada persinggahan pertama di planet Merkurius, langitnya tampak seperti langit di Bulan. Hitam dan gelap! Aneh? Sebenarnya tidak karena Merkurius tidak memiliki atmosfer yang dapat menghamburkan cahaya Matahari.

Di Venus, atmosfernya yang sangat tebal menyebabkan langit di planet tersebut tampak berwarna oranye kemerah-merahan. Setidaknya itulah yang tampak dari citra penjejak Venera milik Soviet.
Perjalanan ke Mars justru menunjukkan kalau langit di planet dengan atmosfer tipis yang memiliki banyak debu tersebut tampak berwarna merah. Jika di Bumi foton biru dihamburkan oleh atmosfer ke semua arah, maka di Mars, debu di atmosfer menghamburkan foton merah dan menyebabkan langit di planet tetangga Bumi ini tampak berwarna merah.
Dari Mars, kita menuju Jupiter. Di sini langit tampak berwarna biru samar atau lebih redup dari Bumi karena cahaya Matahari yang diterima planet raksasa tersebut lebih redup dibanding Bumi. Berlanjut ke planet Saturnus, langit planet yang memiliki cincin tebal ini termasuk unik. Citra Cassini menunjukkan langit utara akan tampak berwarna biru dan semakin ke selatan warna langit menjadi semakin kuning. Di langit selatan Saturnus langit tampak berwarna kuning terang sebagai akibat dari kondisi atmosferik di planet tersebut. Mengapa Saturnus memiliki dua warna langit masih menjadi pertanyaan untuk dicari jawabannya.
Selain planet Saturnus, satelit Titan yang mengelilingi planet tersebut juga memiliki atmosfer tebal dan digadang-gadang sebagai Bumi purba. Citra Huygens memperlihatkan langit Titan yang berwarna seperti jeruk (oranye). Tapi jika ada astronaut yang berdiri di permukaan Titan, maka warna langit yang akan ia lihat adalah kecoklatan atau oranye gelap.
Dari planet gas raksasa, kita menuju ke planet es raksasa yakni Uranus dan Neptunus. Kandungan es di planet ini dan sedikitnya cahaya Matahari yang diterima menyebabkan kedua planet tampak berwarna biru. Dan dari kondisi atmosfer keduanya, diduga langit di Uranus berwarna biru muda atau lebih tepatnya biru kehijauan. Sedangkan langit di planet Neptunus akan tampak berwarna biru langit. Satelit Triton yang mengelilingi Neptunus juga memiliki atmosfer yang sangat tipis sehingga langit di planet ini pun tampak gelap dan hitam.
Hal yang sama juga terjadi di planet-planet yang ada di bintang lainnya. Warna langit dari planet-planet tersebut bergantung pada atmosfer yang dimiliki si planet.

(via: NatGeoIndonesia)