Arsip Tag: Homesick

Homesick

“Takut homesick..” ada yang mengucapkan itu beberapa hari yang lalu sama gue …

Secara harfiah Homesick berarti kangen rumah, tempat tinggal atau sesuatu yang kemarin kita terbiasa bersama lingkungan tersebut namun secara tiba-tiba (lebih banyak atau biasanya karna terpaksa) harus meninggalkan lingkungan tersebut. Bisa karena pindah rumah, ikut orangtua atau kerabat yang lokasi pekerjaannya dipindahkan, atau karena diharuskan menuntut ilmu di kota lain disebabkan lulus dari jenjang pendidikan yang sebelumnya.

Tapi karena alasan apapun biasanya homesick yang gue bahas di sini hanya bersifat sementara. Yaitu karena alasan terakhir yang gue sebutkan tadi di atas.

…diharuskan menuntut ilmu di kota lain…

Mungkin terdengar simpel bagi orang yang belum akan merasakan keadaan di mana kita harus (terpaksa) pergi berpisah dengan teman-teman, sahabat seperjuangan ‘di sini’ dan yang terutama dengan keluarga. Di mana kita sudah terbiasa sedari kita akan mengintip ke dunia ini dengan mereka, Ayah, Ibu, Kakak-Adik mungkin juga dengan saudara yang lain.

Dengan kita ‘pindah’ sementara menuju kota lain berarti semua keadaan di sana akan berbeda dengan siklus harian di tempat kita sebelumnya, alias kota tempat tinggal kita yang asli.

Ada yang bilang, ‘Kau bisa memilih teman, tapi tidak bisa memilih tetangga’. Yup, seratus persen benar! Keberadaan sementara kita di sana pasti jauh dari batas khayalan siapapun, maksud gue, secara individu kita mungkin biasa berkhayal tentang lingkungan dan tetangga ideal kita, tapi.. TETANGGA TIDAK BISA DIPILIH. Apa yang lo kamu anda terima di sana adalah tetangga kalian selama batas waktu yang kalian tetapkan saat memilih tempat tinggal.

Teman bisa dipilih kok, di manapun 🙂

Ada cara yang menurut gue bisa sedikit meredam homesick:

Yang bikin gejala homesick itu muncul pasti kebiasaan bareng orang-orang di lingkungan kita yang asli. Lo kamu anda harus mengatasinya dengan membatasi komunikasi dengan mereka-mereka itu yang di sana.. Untuk sementara waktu  sampai kalian mulai terbiasa hidup dengan siklus kegiatan di lingkungan kalian yang baru. Berkomunikasi aja sesekali, mungkin utamakan kabar terbaru kalian kepada orangtua 🙂

Kalau kalian mempunyai orang terdekat selain kategori yang sebelumnya ada baiknya tetap menjalin kabar singkat sekedar membangun komunikasi hangat. Tidak berlebih. Intinya jangan kabar singkat tadi malah memperburuk homesick kalian, hehe.

Apapun, orang-orang tadi membutuhkan sekedar kabar kalian. Mungkin sesekali juga tambahkan kegiatan baru kalian agar tetap bisa seru-seruan, tentunya dengan point meredam homesick.

Terakhir, homesick menyangkut paut dengan fasilitas di rumah asal kita. Di sana kita mudah bepergian, jajan makanan yang biasanya gak perlu ngitung saldo dompet, terlebih yang rumahnya terkoneksi internet via wi-fi. Semua gratis karna mayoritas ditanggung ayah/ibu atau juga karna kita masih dekat dengan mereka jadi biaya tak terduga bukan masalah terlalu berat. Tapi di sini semua dilakukan dengan tenaga dan pemikiran sendiri. Yang di rumah terbiasa sendiri sebelumnya bukan masalah berarti, teman keseharian kok. Yang enggak, perlu beberapa penyesuaian agar terbiasa. Mengatur keuangan dan konsumsi tentunya agar tetap tercukupi. Musuh utama yang terkena homesick itu, Mbosan… pasti. Kalau sudah merasakan puncaknya mbosan jangan sungkan menghubungi orang yang kalian tahu selalu bersedia menyediakan waktu dan pikirannya untuk kalian. Enggak mesti bersendu-sendu, marah kesal dan celotehan ocehan ngawur kalian pasti ditanggapi dengan bercanda pula oleh orang yang mengerti kita itu. Tenangkan pikiran agar semuanya tidak memperburuk keadaan apalagi mbosan tadi.

Homesick, cuma sementara selama hubungan hangat kita tetap terjalin.